DENPASAR||LintangNusantara.id – Upaya menjaga Bali tetap damai, toleran, dan kondusif terus dilakukan melalui kolaborasi antara aparat kepolisian dan komunitas masyarakat. Salah satunya diwujudkan Densus 88 Anti Teror Polri Satgaswil Bali bersama Aktivis Duta Damai melalui kegiatan “Lapak Toleransi: Berbeda Tapi Tetap Satu”.
Kegiatan tersebut digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Lapangan Renon, Denpasar, Minggu (9/8/2026). Selain mengkampanyekan toleransi, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mencegah bullying atau perundungan, khususnya terhadap anak dan remaja.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua KPAD Provinsi Bali Ibu Yastini, psikolog Wulan, psikolog Komang Sri Rahayu, serta perwakilan LSM Laskar Merah Putih Mada Bali.
Katim Pencegahan Densus 88 AT Polri Satgaswil Bali, Ipda Hadi, menyampaikan bahwa upaya menjaga toleransi dan mencegah berkembangnya paham radikalisme dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk dengan menghentikan budaya bullying.
«“Berbeda itu indah. Beda suku, agama, dan latar belakang bukan alasan untuk saling menyakiti. Melalui Lapak Toleransi ini kami ingin mengajak seluruh elemen masyarakat Bali untuk tetap satu, saling menghargai, dan menciptakan lingkungan yang aman untuk anak-anak kita,” ujarnya.»
Sementara itu, Psikolog Wulan memberikan edukasi mengenai dampak bullying terhadap kondisi psikologis dan kesehatan mental anak maupun remaja. Menurutnya, perundungan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele karena dapat memberikan dampak serius terhadap perkembangan anak.
Ketua KPAD Provinsi Bali, Ibu Yastini, juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.
Kegiatan yang dikemas secara santai di tengah aktivitas CFD tersebut berlangsung interaktif. Masyarakat diajak mengikuti dialog, yel-yel kebangsaan, serta menerima souvenir edukasi terkait pencegahan bullying.
Antusiasme peserta terlihat ketika bersama-sama meneriakkan yel-yel “Berbeda Tapi Tetap Satu” sebagai pesan persatuan dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat Bali.
Melalui kegiatan tersebut, Densus 88 bersama komunitas berharap edukasi mengenai toleransi dan bahaya bullying dapat terus digaungkan di tengah masyarakat.
Kolaborasi antara aparat, psikolog, lembaga perlindungan anak, komunitas, dan masyarakat diharapkan menjadi langkah bersama dalam menciptakan Bali yang damai, toleran, serta aman dan bebas dari perundungan.
Warta : DEDDY












