SRAGEN|| LintangNusantara – Kesiapan layanan kesehatan menjadi perhatian di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Sragen, Jawa Tengah. Hingga kini, sekolah tersebut belum memiliki tenaga medis yang secara khusus bertugas menangani kesehatan para siswa yang tinggal di lingkungan asrama.
Fasilitas kesehatan yang tersedia di sekolah saat ini baru berupa Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan persediaan obat-obatan. Sementara untuk pemeriksaan lebih lanjut, siswa yang mengalami gangguan kesehatan harus dibawa ke puskesmas.
Kepala SR Terintegrasi Sragen, Giyatno, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, sekolah belum memiliki sumber daya manusia dari tenaga kesehatan yang ditempatkan secara khusus di lingkungan sekolah.
“Untuk fasilitas kesehatan di sekolah baru UKS dan obat-obatan yang disiapkan sekolah. Untuk tenaga medis, kami belum ada,” kata Giyatno, Jumat (11/9/2026).
Ia menjelaskan, ketika siswa mengalami sakit, pihak sekolah terlebih dahulu memberikan penanganan sesuai kondisi yang dialami. Apabila kondisi tidak membaik, siswa kemudian diperiksakan ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan dokter.
“Apabila belum membaik, siswa yang sakit diperiksa ke puskesmas dan berobat dengan dokter puskesmas. Hal ini dilakukan karena di sini belum ada SDM tenaga kesehatan di sekolah kami,” ujarnya.
Siswa Tinggal di Asrama, Pengawasan Kesehatan Jadi Sorotan
Persoalan tersebut kembali menjadi perhatian setelah seorang siswi kelas XI A SR Terintegrasi 1 Sragen, Anisa Nur Fadilah, meninggal dunia setelah sempat mengalami demam dan menjalani perawatan di rumah sakit.
Anisa diketahui memiliki riwayat hipertiroid yang sudah dialami sebelum masuk Sekolah Rakyat.
Kepala Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan, Riki Antono, mengatakan kondisi kesehatan Anisa memang sebelumnya pernah mengalami gangguan.
Menurut Riki, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi karena siswa Sekolah Rakyat tinggal di asrama dan tidak selalu berada dalam pengawasan langsung orang tua.
Ia bahkan menyebut cukup banyak siswa yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan dan harus diantar ke fasilitas kesehatan.
“Kalau bisa, di dalam sekolah atau asrama didirikan klinik khusus dengan penanganan medis yang memadai. Mengingat anak-anak tinggal di asrama dan jauh dari pengawasan langsung orang tua,” tegas Riki.
Riki menilai keberadaan klinik internal dengan tenaga medis yang memadai dapat menjadi langkah antisipasi, terutama bagi siswa yang mempunyai riwayat penyakit tertentu.
Ia juga mendorong adanya pemetaan kondisi kesehatan siswa sejak awal, sehingga sekolah dapat mengetahui siswa yang membutuhkan perhatian dan pengawasan kesehatan secara khusus.
Anisa sempat demam dan diperiksa ke Puskesmas.Sebelum meninggal dunia, Anisa sempat mengalami demam. Pihak sekolah kemudian membawanya ke Puskesmas Mondokan untuk mendapatkan pemeriksaan dan obat.
Setelah mendapatkan obat, Anisa kembali ke sekolah. Namun pada malam harinya, demam kembali dialami.
Saat hendak dibawa ke puskesmas, Anisa disebut meminta untuk dijemput orang tuanya. Orang tua kemudian datang ke asrama dan membawa Anisa pulang.
Ketika dijemput, kondisi Anisa disebut masih terlihat ceria. Ibunya kemudian memberikan obat parasetamol yang tersisa dari pemeriksaan sebelumnya.
Demam sempat mereda sehingga Anisa tidak langsung dibawa ke fasilitas kesehatan pada malam tersebut.
Namun keesokan harinya kondisi Anisa kembali memburuk. Orang tuanya kemudian membawa Anisa ke Puskesmas Mondokan.
Karena kondisi pelayanan penuh, Anisa selanjutnya dirujuk ke Puskesmas Sukodono sebelum akhirnya mendapatkan rujukan ke RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen.
Anisa sempat menjalani pemeriksaan di IGD dan kemudian dipindahkan ke ruang rawat inap. Namun kondisi kesehatannya terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia saat menjalani perawatan.
Jenazah Anisa kemudian dimakamkan oleh keluarga.Meninggalnya seorang siswa tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan ketiadaan tenaga medis di sekolah. Terlebih, Anisa diketahui memiliki riwayat penyakit sebelum masuk Sekolah Rakyat.
Namun, kondisi tersebut tetap menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem pelayanan dan pengawasan kesehatan bagi siswa yang tinggal di asrama.
Sekolah berasrama memiliki karakter berbeda dengan sekolah umum karena siswa berada jauh dari keluarga dalam sebagian besar aktivitas sehari-hari. Karena itu, kesiapan pertolongan pertama, pemantauan kondisi kesehatan, akses dokter, hingga mekanisme rujukan menjadi bagian penting yang perlu dipastikan.
Ke depan, keberadaan tenaga kesehatan atau klinik internal di lingkungan Sekolah Rakyat dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari penguatan perlindungan dan keselamatan siswa.
Evaluasi tersebut penting agar setiap keluhan kesehatan siswa dapat terdeteksi dan ditangani sedini mungkin, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu.
****












