Krisis Air Bersih Menghantui Blora, Warga Keluarkan Rp600 Ribu per Bulan

  • Bagikan
Screenshot 2026 09 11 16 02 27 55 680d03679600f7af0b4c700c6b270fe7

BLORA||LintangNusantara– Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mulai membebani kehidupan warga. Kesulitan mendapatkan air bersih membuat masyarakat terpaksa mengeluarkan biaya tambahan hingga ratusan ribu rupiah setiap bulan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Kondisi tersebut dirasakan warga Desa Klokah, Kecamatan Kunduran. Di tengah musim kemarau, sumur-sumur warga yang menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari mulai mengering.

Salah seorang warga, Sudarlan, mengatakan bantuan air bersih dari berbagai pihak sangat dibutuhkan masyarakat. Ia pun mengapresiasi bantuan yang disalurkan Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah ke wilayah tersebut.

“Warga desa membutuhkan air bersih. Terima kasih atas bantuan air bersih dari Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah,” ujar Sudarlan, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, bantuan air bersih diharapkan tidak hanya datang sesekali. Pasalnya, kondisi kekeringan masih menjadi persoalan yang harus dihadapi warga.

“Ya berharap bantuan tetap berlanjut, tidak hanya sehari,” katanya.

Harus Beli Air hingga Rp600 Ribu Sebulan>Persoalan air bersih membuat sebagian warga harus membeli air dari daerah lain. Untuk satu truk tangki, warga harus membayar sekitar Rp150 ribu.

Air tersebut biasanya digunakan selama lima hingga enam hari. Jika dihitung dalam satu bulan, pengeluaran warga untuk membeli air bersih bisa mencapai sekitar Rp600 ribu.

“Biasanya beli tangki dari Todanan. Satu tangki harganya Rp150 ribu, biasanya untuk lima sampai enam hari,” ungkap Sudarlan.

Beban tersebut semakin terasa bagi masyarakat yang juga membutuhkan air untuk aktivitas pertanian.

Selain kebutuhan rumah tangga, air digunakan untuk menyiram tanaman, termasuk tanaman tembakau milik warga.

Sumur Bor Justru Mengeluarkan Air Asin.Upaya warga mencari sumber air sebenarnya telah dilakukan. Hampir setiap rumah di Desa Klokah memiliki sumur dengan kedalaman rata-rata sekitar delapan meter.

Namun, ketika dilakukan pengeboran lebih dalam, persoalan lain muncul. Air yang keluar justru terasa asin sehingga tidak dapat diandalkan sebagai sumber air bersih.

“Rata-rata tiap warga punya sumur yang kemudian air bersih dari truk tangki dimasukkan ke dalam sumur tersebut,” jelasnya.

Kondisi ini membuat warga semakin bergantung pada pasokan air dari luar wilayah ketika musim kemarau berlangsung.

Saat bantuan air bersih tiba, warga pun berbondong-bondong datang dengan membawa berbagai wadah, mulai dari jeriken, ember, galon hingga tong untuk menampung air.

Kejati Jateng Salurkan 20 Tangki.Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah turut merespons kondisi tersebut dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat Desa Klokah.

Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Waito Wongateleng, menyampaikan sebanyak 20 tangki air bersih disalurkan untuk warga. Bantuan tersebut dibagi dalam dua hari, masing-masing 10 tangki.

“Sepuluh tangki hari ini, sepuluh tangki hari berikutnya,” ujarnya.

Penyaluran air bersih tersebut dilakukan bersamaan dengan kunjungan kerja jajaran Kejati Jawa Tengah ke Kabupaten Blora.

Bantuan itu diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang tengah menghadapi keterbatasan air bersih akibat musim kemarau.

Namun demikian, persoalan yang dihadapi warga Desa Klokah menunjukkan bahwa krisis air bersih bukan sekadar persoalan distribusi bantuan. Ketika sumur warga mengering dan sumber air alternatif justru menghasilkan air asin, kebutuhan akan solusi jangka panjang menjadi semakin mendesak.

(***)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *