Public Speaking Jadi Senjata Polwan di Era Digital, Polda Sumbar Perkuat Komunikasi dan Kepribadian

  • Bagikan
Screenshot 2026 09 10 19 39 34 13 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

PADANG||LintangNusantara – Tantangan anggota Polri di tengah derasnya arus informasi digital tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjalankan tugas di lapangan. Cara berkomunikasi, bersikap dan merespons masyarakat kini turut menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.

Hal tersebut menjadi perhatian Polda Sumatera Barat melalui program Polri Belajar bertema “Public Speaking dan Personality Development dalam Rangka Hari Polisi Wanita”, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 821 personel. Sebanyak 100 Polwan dari satuan kerja Polda Sumbar bersama perwakilan operator PID masing-masing Satker mengikuti kegiatan secara langsung. Sementara 711 personel Polwan dari Satwil jajaran serta operator PID Polres/Polresta mengikuti kegiatan secara daring.

Kabiro SDM Polda Sumbar Kombes Pol Anissullah M. Ridha menegaskan bahwa kemampuan komunikasi dan pengembangan kepribadian merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Polri.

Menurutnya, public speaking bukan sekadar keberanian berbicara di hadapan orang banyak. Kemampuan tersebut harus mampu membuat informasi tersampaikan secara jelas, percaya diri, humanis dan mudah dipahami masyarakat.

“Kemampuan public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara di depan orang banyak. Yang lebih penting adalah bagaimana personel mampu menyampaikan pesan dengan jelas, percaya diri, humanis, dan mudah dipahami oleh masyarakat,” ujar Anissullah.

Ia menambahkan, kemampuan komunikasi harus berjalan seiring dengan karakter, integritas, etika profesi serta kecerdasan emosional.

Pasalnya, anggota Polri merupakan bagian dari institusi yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam berbagai situasi pelayanan maupun pelaksanaan tugas kepolisian.

“Personel Polri harus memiliki kompetensi sekaligus karakter yang kuat. Sikap, cara berkomunikasi, penampilan, hingga bagaimana kita merespons masyarakat akan ikut menentukan bagaimana institusi Polri dipersepsikan oleh publik,” katanya.

Bukan sekadar pandai bicara,dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai teknik berbicara di depan publik. Mereka juga dibekali kemampuan menyusun pesan, mengolah vokal, menggunakan bahasa tubuh, mengatasi rasa gugup, meningkatkan kepercayaan diri hingga menerapkan komunikasi persuasif dan humanis.

Kemampuan berkomunikasi melalui berbagai saluran juga menjadi perhatian, mulai dari komunikasi tatap muka, forum daring hingga pemanfaatan media sosial.

Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya menilai kemampuan komunikasi publik tidak semestinya hanya menjadi tanggung jawab personel yang berada di fungsi Humas.

Menurutnya, setiap anggota Polri merupakan representasi institusi ketika berhadapan dengan masyarakat.

“Kehumasan bukan hanya menjadi tanggung jawab personel yang bertugas di fungsi Humas. Pada dasarnya, setiap anggota Polri adalah representasi institusi ketika berhadapan dan berkomunikasi dengan masyarakat,” kata Susmelawati.

Satu ucapan bisa membentuk citra Institusi,perkembangan teknologi informasi membuat ucapan maupun tindakan seorang personel dapat dengan cepat diketahui dan menjadi perhatian masyarakat luas.

Karena itu, personel Polri dituntut semakin berhati-hati dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui ruang digital.

Informasi yang disampaikan harus akurat, empatik, solutif dan bertanggung jawab agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Di era digital, komunikasi publik menjadi instrumen yang sangat penting dalam membangun kepercayaan. Karena itu, personel harus mampu berkomunikasi dengan baik sekaligus bijak memanfaatkan media sosial untuk memberikan edukasi dan menghadirkan citra positif Polri di tengah masyarakat,” ujarnya.

Selain public speaking, program Polri Belajar tersebut juga memberikan penguatan terhadap aspek personality development, meliputi pembentukan karakter dan integritas, etika profesi, personal branding Polwan, kecerdasan emosional, penampilan serta sikap profesional.

Penguatan kemampuan tersebut diarahkan agar kompetensi teknis personel berjalan seimbang dengan kualitas personal.

Dengan demikian, Polwan diharapkan tidak hanya mampu menjalankan tugas kepolisian secara profesional, tetapi juga menjadi komunikator yang efektif sekaligus representasi institusi ketika berada di tengah masyarakat.

Di era ketika informasi bergerak cepat dan ruang publik semakin terbuka, kemampuan berbicara secara tepat, bersikap bijak serta membangun empati menjadi bagian penting dari kualitas pelayanan kepolisian.

(Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *