Delapan Orang Hilang di Selat Sunda Saat Liput Erupsi Anak Krakatau, BM PAN Desak SAR Maksimalkan Pencarian

  • Bagikan
Screenshot 2026 09 10 16 47 54 13 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

JAKARTALINTANGNUSANTARA– Misi jurnalistik untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda berubah menjadi operasi pencarian dan penyelamatan. Sebanyak delapan orang yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru speedboat hingga kini masih dalam pencarian setelah kapal yang mereka tumpangi kehilangan kontak di perairan Selat Sunda.

Kabar tersebut mendapat perhatian Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (DPP BM PAN), Slamet Ariyadi. Ia menyampaikan keprihatinan sekaligus mendorong Tim SAR gabungan agar mengoptimalkan seluruh sumber daya untuk menemukan para korban.

“Kami di keluarga besar DPP BM PAN sangat terkejut dan prihatin mendengar kabar hilangnya rekan-rekan jurnalis saat menjalankan tugas mulia di Selat Sunda. Mari kita bersama-sama mendoakan agar mereka lekas ditemukan dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apa pun,” ujar Slamet dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).

Menurut Slamet, kondisi geografis dan karakter perairan Selat Sunda menjadi tantangan tersendiri dalam operasi pencarian. Karena itu, perlu dilakukan optimalisasi penyisiran, baik melalui jalur laut maupun udara, dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca dan kondisi gelombang.

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh unsur SAR gabungan, termasuk Basarnas Banten, Polairud, Polda Banten dan unsur terkait lainnya yang terus melakukan pencarian.

“Apresiasi yang sebesar-besarnya kami tujukan kepada tim SAR gabungan yang bergerak cepat sejak hari pertama laporan diterima, bahu-membahu menyisir lautan demi misi kemanusiaan ini,” katanya.

Berangkat Meliput Erupsi, Tak Sampai Satu Jam Hilang Kontak

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Kantor SAR Banten dan unsur terkait, rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.

Mereka menggunakan satu speedboat menuju kawasan Selat Sunda untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Sekitar pukul 14.42 WIB, salah seorang penumpang masih sempat berkomunikasi dengan rekan sesama jurnalis. Dalam komunikasi tersebut, ia juga mengirimkan titik koordinat atau berbagi lokasi.

Namun, sekitar 22 menit kemudian, tepatnya pukul 15.04 WIB, komunikasi dan sinyal dari speedboat tersebut dilaporkan terputus.

Sejak saat itu, keberadaan lima jurnalis dan tiga kru kapal menjadi fokus pencarian Tim SAR gabungan.

Lima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari LKBN Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu Agency, serta Donal yang merupakan jurnalis freelance.

Sementara tiga kru kapal terdiri dari Warta sebagai kapten, Sukarman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai guide atau pemandu.

Radius Pencarian Terus Diperluas.Operasi pencarian terus dilakukan dengan memperluas wilayah penyisiran hingga mencapai ratusan mil laut. Sejumlah pulau dan kawasan perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau turut menjadi sasaran pencarian.

Namun, operasi SAR menghadapi sejumlah kendala, terutama kondisi cuaca dan gelombang laut. Informasi yang dihimpun menyebutkan kecepatan angin mencapai sekitar 16,7 knot dengan tinggi gelombang berkisar 1 hingga 2 meter.

Dalam kondisi tersebut, Slamet meminta agar operasi pencarian tidak berhenti pada radius awal, melainkan terus dievaluasi dan diperluas berdasarkan kemungkinan arah hanyut kapal serta kondisi arus dan angin.

“Kita berharap seluruh potensi dan sumber daya yang ada dapat terus dioptimalkan. Keselamatan delapan orang ini harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Slamet juga mengajak masyarakat pesisir dan para nelayan yang beraktivitas di kawasan Selat Sunda untuk turut membantu memberikan informasi kepada petugas apabila menemukan benda terapung, kapal, atau tanda-tanda lain yang diduga berkaitan dengan speedboat tersebut.

Informasi tersebut diharapkan segera disampaikan kepada posko terpadu SAR di wilayah Carita agar dapat ditindaklanjuti oleh petugas.

Hingga kini, harapan keluarga, rekan-rekan jurnalis, dan masyarakat masih tertuju pada satu hal: delapan orang yang berangkat menjalankan tugas jurnalistik tersebut dapat segera ditemukan dan kembali dalam kondisi selamat.

(Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *