BOJONEGORO||LintangNusantara – Tradisi manganan atau sedekah bumi kembali digelar masyarakat Dusun Ngampel, Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jumat (21/8). Bertempat di kawasan Pesarean Ngampel, kegiatan tersebut menjadi momentum warga untuk mempererat silaturahmi sekaligus memanjatkan doa demi keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bersama.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan yang dipandu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 42 Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, doa bersama, serta sambutan dari panitia, Pemerintah Desa Turi, dan tokoh agama.
Perwakilan juru kunci Pesarean Ngampel, Ghariman, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada masyarakat, Pemerintah Desa Turi, serta seluruh pihak yang telah hadir dan mendukung terlaksananya tradisi tersebut.
“Terima kasih semuanya, masyarakat, RT, RW, kepala desa, dan semuanya yang sudah hadir. Tanpa panjenengan semua, acara ini tidak bisa terlaksana,” ujarnya.
Ghariman menjelaskan, tradisi manganan di Pesarean Ngampel sebelumnya sempat berhenti selama puluhan tahun. Tradisi tersebut kemudian kembali dilaksanakan pada 27 Agustus 2021.
Menurutnya, pelaksanaan tahun ini juga mengalami penundaan karena tidak terdapat Jumat Kliwon pada bulan Suro, sehingga kegiatan akhirnya dilaksanakan setelah mengalami penyesuaian waktu.
Ia berharap tradisi manganan dapat terus dilestarikan dan dilaksanakan secara istiqomah. Selain sebagai tradisi, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk menyampaikan usulan maupun membahas berbagai persoalan terkait Pesarean Ngampel.
Sementara itu, Kepala Desa Turi, Riyadi, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan manganan tersebut. Ia berharap doa dan kebersamaan warga dapat membawa keberkahan serta meningkatkan kerukunan masyarakat.
“Semoga rezekinya ditambah dan dijauhkan dari bala. Semoga istiqomah menyelenggarakan sedekah bumi. Yang penting silaturahmi, jika diniati dengan baik insyaallah akan barokah,” tutur Riyadi.
Dalam kesempatan tersebut, tokoh agama K.H. Rohmat Munajat memberikan tausiyah kepada masyarakat. Ia mengingatkan agar tradisi sedekah bumi tidak dimaknai sebagai bentuk penyembahan kepada selain Allah SWT.
Menurutnya, manganan hendaknya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa, tawasul, sedekah, dan silaturahmi.
“Ojo sembah mergo bukan Pangeran,” pesannya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendoakan agar Dusun Ngampel dan Desa Turi senantiasa diberikan keamanan, ketenteraman, kesehatan, kemakmuran, dan kesejahteraan.
K.H. Rohmat menjelaskan, doa dan tawasul dalam kegiatan tersebut ditujukan kepada Allah SWT dengan harapan seluruh hajat masyarakat dikabulkan. Sedekah bumi juga menjadi bentuk ikhtiar dan doa agar masyarakat diberikan umur panjang, kesehatan, kelancaran rezeki, keturunan yang saleh dan salehah, serta keteguhan dalam menjalankan ibadah.
Ia turut mengingatkan masyarakat tentang pentingnya mengingat kematian sebagai bekal untuk memperbaiki kehidupan.
“Ziarah ben ileng mati. Wong sing paling pinter yaiku wong sing akeh elinge mati,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa setiap manusia pasti memiliki persoalan dan tantangan dalam kehidupan. Karena itu, setiap masalah harus dihadapi dengan kesabaran, doa, dan ikhtiar.
“Semua orang pasti punya masalah. Masalah harus dihadapi karena itu bagian dari kodrat. Jangan kemudian kita lari dari masalah,” pesannya.
Suasana kebersamaan juga terlihat dari hidangan yang dibawa warga. Masyarakat membawa makanan dan jajanan dari rumah masing-masing untuk kemudian dibagikan serta dinikmati bersama di lokasi kegiatan. Tumpeng lengkap dengan ayam utuh turut menjadi bagian dari hidangan tradisi manganan.
Tradisi manganan di Dusun Ngampel bukan sekadar warisan budaya yang terus dijaga, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, memperkuat kebersamaan, serta memanjatkan doa bersama.
Warga berharap tradisi sedekah bumi tersebut dapat terus dilestarikan dan dilaksanakan secara istiqomah setiap tahunnya, sehingga nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan doa bersama tetap tumbuh di tengah masyarakat.
Warta: Lukman












