Pemkab Bojonegoro Percepat Pembangunan Embung Desa, Perkuat Ketahanan Pangan dan Antisipasi Kekeringan

  • Bagikan
IMG 20260728 WA0045

BOJONEGORO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus memperkuat sektor pertanian melalui pembangunan embung desa sebagai langkah strategis menghadapi ancaman kekeringan saat musim kemarau. Infrastruktur penampung air tersebut diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk menjamin ketersediaan air irigasi sekaligus menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah.

 

Sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur, Kabupaten Bojonegoro mencatat produksi padi mencapai sekitar 886 ribu ton per tahun, menjadikannya daerah penghasil padi terbesar kedua di Jawa Timur. Salah satu wilayah penyumbang produksi tersebut adalah Kecamatan Purwosari dengan hasil panen sekitar 14.185 ton padi setiap tahun.

 

Namun, tantangan musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan ketersediaan air semakin terbatas. Selama ini, petani di Kecamatan Purwosari mengandalkan aliran Kali Gandong dan curah hujan sebagai sumber irigasi. Ketika musim kemarau tiba, kebutuhan air untuk lahan pertanian yang didominasi tanaman jagung dan tembakau kerap mengalami kendala.

 

Untuk menjawab persoalan tersebut, Bupati Bojonegoro mendorong pembangunan embung desa sebagai upaya memperkuat cadangan air. Embung berfungsi menampung air hujan saat musim penghujan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber irigasi pada musim kemarau.

 

Pada tahun 2026, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Bojonegoro membangun embung di dua desa di Kecamatan Purwosari, yakni Desa Pojok dan Desa Punggur. Pelaksanaan pembangunan pada musim kemarau dinilai tepat agar saat musim penghujan tiba embung telah siap menampung air secara optimal.

 

Camat Purwosari, Ike Widyaningrum, mengatakan pembangunan embung harus diiringi dengan pengelolaan yang berkelanjutan oleh pemerintah desa. Menurutnya, embung tidak hanya berfungsi sebagai tempat penampungan air, tetapi juga perlu didukung jaringan pipanisasi menuju lahan pertanian agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh para petani.

 

“Area di sekitar embung juga dapat ditanami tanaman produktif sebagai peneduh sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

 

Kepala Desa Punggur, Pasir, mengapresiasi program tersebut. Ia menilai keberadaan embung akan sangat membantu memenuhi kebutuhan air irigasi para petani. Pemerintah desa juga berkomitmen mengembangkan jaringan pengairan agar manfaat embung mampu menjangkau lebih banyak lahan pertanian.

 

Sementara itu, Kepala Desa Pojok, Yudianto, menyebut pembangunan embung menjadi solusi nyata bagi petani dalam mengatasi keterbatasan air yang selama ini menjadi persoalan utama saat musim kemarau.

 

Melalui pembangunan embung desa, Pemkab Bojonegoro menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan melalui penyediaan infrastruktur pengairan yang berkelanjutan. Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, produktivitas pertanian diharapkan terus meningkat, kesejahteraan petani semakin baik, serta posisi Bojonegoro sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur dapat terus dipertahankan.

(Timred)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *