KKN 42 Unugiri Dorong Warga Turi Sulap Bonggol Jagung Jadi Media Budidaya Jamur

  • Bagikan
Screenshot 2026 08 21 09 41 18 10 680d03679600f7af0b4c700c6b270fe7

BOJONEGORO||LINTANGNUSANTARA – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 42 Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) menggelar sosialisasi pemanfaatan bonggol atau janggel jagung sebagai media budidaya jamur di Balai Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (20/8/2026).

 

Kegiatan bertema “Penguatan Ekonomi Kreatif dan UMKM melalui Pemanfaatan Bonggol Jagung sebagai Media Budidaya Jamur” tersebut menjadi salah satu program utama KKN 42 Unugiri dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.

 

Berdasarkan hasil observasi mahasiswa KKN, sebagian masyarakat Desa Turi banyak membudidayakan tanaman jagung. Kondisi tersebut menghasilkan bonggol jagung dalam jumlah cukup banyak yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

 

Melalui program tersebut, mahasiswa KKN 42 mengajak masyarakat mengubah limbah pertanian menjadi media budidaya yang memiliki nilai guna sekaligus berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan.

 

Kegiatan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathon, dilanjutkan laporan Koordinator Desa (Kordes) KKN 42, sambutan Sekretaris Desa Turi, doa, serta kegiatan inti berupa sosialisasi dan praktik pembuatan media budidaya jamur.

 

Kordes KKN 42 Unugiri, Nur Sholiqin, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah hadir dan mengikuti kegiatan tersebut.

 

Menurutnya, ide pemanfaatan bonggol jagung muncul setelah mahasiswa melakukan observasi terhadap potensi pertanian di Desa Turi.

 

“Ketika observasi, banyak yang menanam jagung. Dari bekas janggel bisa dimanfaatkan. Bisa menambah pemasukan dengan diolah menjadi jamur,” jelasnya.

 

Sementara itu, Sekretaris Desa Turi, Lilik Ernawati, menyampaikan dukungannya terhadap program yang diinisiasi mahasiswa KKN. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan pengetahuan baru dan manfaat nyata bagi masyarakat.

 

Selain sosialisasi budidaya jamur, Lilik juga mengingatkan masyarakat, khususnya para ketua lingkungan, agar lebih teliti dalam administrasi kependudukan. Data pada akta kelahiran, kartu keluarga, KTP hingga ijazah harus dipastikan sesuai agar tidak menimbulkan persoalan dalam berbagai urusan administrasi di kemudian hari.

 

Ia juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan tanaman bambu di sekitar reflektor jalan yang sebelumnya diberikan mahasiswa KKN, khususnya di wilayah RT 8 dan sejumlah titik tikungan.

 

“Semoga pengalaman yang didapatkan di Desa Turi ini bermanfaat. Pesan saya, jadilah orang yang bermanfaat, jangan memanfaatkan orang,” pesannya.

 

Memasuki sesi inti, materi pembuatan media budidaya jamur disampaikan oleh Sholikul Amin dengan moderator Ahmad Zahniar Alfiansyah.

 

Dalam praktiknya, bonggol jagung kering dipadukan dengan sejumlah bahan pendukung, antara lain ragi tape, dedak atau bekatul, urea, dan air bersih. Bonggol jagung terlebih dahulu direndam kurang lebih 24 jam agar menyerap air secara merata.

 

Selanjutnya, ragi tape dihaluskan dan dicampurkan dengan dedak serta urea. Bahan tersebut kemudian ditata bersama bonggol jagung menjadi lapisan media. Setelah disusun, media disiram hingga lembap namun tidak tergenang.

 

Media kemudian ditutup menggunakan terpal atau plastik dan ditempatkan di lokasi yang teduh untuk menjalani proses fermentasi. Selama proses tersebut, kelembapan, kebersihan dan sirkulasi udara perlu diperhatikan.

 

Antusiasme masyarakat terlihat dalam sesi praktik. Sejumlah peserta turut mengajukan pertanyaan terkait proses pertumbuhan dan masa panen jamur.

 

Kepala Dusun Ngampel, misalnya, menanyakan berapa lama jamur dapat tumbuh dan apakah media yang sama dapat digunakan kembali setelah beberapa kali panen.

 

Pemateri menjelaskan bahwa hasil pertumbuhan jamur dapat mengalami penurunan setelah beberapa kali panen. Sekitar hari ke-14 hingga ke-15, pertumbuhan umumnya tidak lagi maksimal seperti pada awal panen sehingga diperlukan media baru untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.

 

Kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka wawasan masyarakat Desa Turi bahwa bonggol jagung tidak harus berakhir sebagai limbah, tetapi dapat dikembangkan menjadi media budidaya yang bernilai ekonomis.

 

Selain dijual dalam bentuk jamur segar, hasil budidaya juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk olahan, seperti jamur crispy, sambal jamur, tumis atau oseng jamur. Pemasarannya pun dapat dilakukan melalui media sosial, warung sekitar desa, pedagang sayur keliling maupun pemasaran dari mulut ke mulut.

 

KKN 42 Unugiri berharap program tersebut menjadi langkah awal dalam meningkatkan kreativitas masyarakat, mengurangi limbah pertanian, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif dan UMKM berbasis potensi lokal Desa Turi.

 

Dengan pemanfaatan sederhana namun memiliki nilai ekonomi tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan potensi bonggol jagung secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga.

KKN 42 UNIGIRI

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *