BOJONEGORO, LintangNusantara.id – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 42 Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro turut menggali kearifan lokal masyarakat Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, dengan menelusuri sejarah asal-usul penamaan desa yang diwariskan secara turun-temurun.
Kegiatan tersebut dilakukan melalui kunjungan ke kawasan petilasan yang berada di RT 11 Dusun Ngampel, Jumat (8/8/2026). Dalam penelusuran itu, mahasiswa didampingi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Turi, Ghariman.
Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat sejarah, tradisi, serta nilai-nilai budaya yang berkembang di tengah masyarakat Desa Turi.
Menurut Ghariman, kawasan petilasan tersebut diyakini sebagai tempat singgah sekaligus lokasi semedi Mbah Joko Umboro, yang disebut sebagai menantu Kiai Tariman.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Mbah Joko Umboro melakukan perjalanan spiritual dari wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Bacem, kemudian menuju Dusun Sukosewu, Dusun Belah, Dusun Balong hingga akhirnya sampai di Dusun Ngampel.
Dalam perjalanan tersebut, Mbah Joko Umboro dikisahkan hendak mengambil wudu untuk melaksanakan salat. Namun, karena tidak menemukan sumber air, ia terus mencari hingga menemukan sebuah sumur di kawasan ledokan yang kini dikenal dengan nama Bacem Ledok.
Perjalanan kemudian berlanjut hingga kawasan yang sekarang menjadi Dusun Ngampel. Di lokasi tersebut, Mbah Joko Umboro dipercaya melakukan tapa atau semedi selama beberapa bulan, tepatnya di kawasan yang oleh warga dikenal sebagai Watu Gunung.
Pada masa itu, kehidupan masyarakat sekitar disebut masih kerap diwarnai perselisihan. Melihat kondisi tersebut, Mbah Joko Umboro kemudian memberikan pitutur atau nasihat kepada masyarakat, khususnya selepas salat Magrib dan Isya, di bawah sebuah pohon turi.
“Dahulu masyarakat sekitar sini suka berantem, akhirnya dituturi atau diberi pitutur oleh beliau,” ujar Ghariman.
Seiring waktu, masyarakat mulai menerima dan mengikuti nasihat tersebut. Kehidupan sosial warga pun perlahan menjadi lebih rukun dan harmonis.
Cerita mengenai pitutur Mbah Joko Umboro tersebut kemudian terus diwariskan dari generasi ke generasi. Di sekitar lokasi semedi dan tempat beliau memberikan nasihat, dahulu juga banyak tumbuh pohon turi.
Keberadaan pohon turi tersebut diyakini masyarakat menjadi salah satu asal-usul penamaan Desa Turi yang digunakan hingga saat ini.
Asal-usul Nama Dusun Ngampel
Selain Desa Turi, kawasan petilasan tersebut juga menyimpan cerita mengenai asal-usul nama Dusun Ngampel.
Ghariman menjelaskan, ketika pertama kali datang, keberadaan Mbah Joko Umboro sempat menimbulkan kecurigaan warga karena sosoknya belum dikenal. Namun, pakaian jubah putih yang dikenakannya membuat masyarakat menduga bahwa ia merupakan murid Sunan Ampel atau memiliki keterkaitan dengan ajaran Sunan Ampel.
Cerita tersebut kemudian berkembang di tengah masyarakat hingga kawasan tersebut dikenal dengan nama Ngampel.
Jejak sejarah yang diyakini berkaitan dengan perjalanan Mbah Joko Umboro hingga kini masih dapat ditemukan di sekitar petilasan. Di antaranya berupa pohon wungu yang kini telah dipagari sebagai penanda lokasi semedi.
Selain itu, terdapat pula Kedung Gupit yang dipercaya masyarakat sebagai bekas tempat sujud ketika Mbah Joko Umboro melaksanakan salat.
Masyarakat setempat juga meyakini malam Jumat Kliwon pada bulan Muharam tahun 1836 sebagai momentum lahirnya Desa Turi.
Untuk mengenang sejarah tersebut, warga secara rutin menggelar tradisi manganan yang melibatkan masyarakat RT 8, RT 9, RT 10, dan RT 11 Dusun Ngampel, bersama perangkat desa serta tokoh masyarakat.
Tradisi manganan tersebut sempat vakum selama beberapa tahun. Namun, sekitar 2023, kegiatan kembali dihidupkan atas prakarsa ibu-ibu jamaah tahlil bersama masyarakat di sekitar petilasan.
Jika pada awalnya hanya diikuti puluhan warga, jumlah peserta terus bertambah dari tahun ke tahun.
Pada 2024, empat ketua RT di Dusun Ngampel kemudian melakukan musyawarah untuk mengembangkan kegiatan tersebut. Tradisi manganan pun dikemas lebih meriah dengan menghadirkan pagelaran Wayang Thengul, salah satu kesenian tradisional khas Bojonegoro.
Upaya pelestarian kawasan bersejarah tersebut terus dilakukan. Pada 2025, masyarakat bersama Ghariman menggagas pembangunan sebuah joglo di kawasan petilasan yang kini dimanfaatkan sebagai sarana kegiatan budaya dan kemasyarakatan.
Menurut Ghariman, keberadaan joglo tersebut menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, dari 18 desa di Kecamatan Tambakrejo, Desa Turi disebut menjadi satu-satunya desa yang memiliki bangunan joglo di kawasan yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai pesarean.
Namun, Ghariman menegaskan bahwa istilah pesarean tersebut bukan berarti makam.
“Pesarean itu sare leren, tempat istirahat. Beliau hanya singgah beberapa bulan di sini, tidak ada makamnya,” jelasnya.
KKN Unugiri Dorong Pelestarian Kearifan Lokal
Ketua KKN 42 Unugiri, Nur Sholiqin, mengatakan penggalian sejarah lokal merupakan bagian penting untuk memahami karakter, budaya, dan identitas masyarakat di lokasi mahasiswa melaksanakan pengabdian.
“Melalui kunjungan ini, kami tidak hanya belajar tentang sejarah Desa Turi, tetapi juga memahami nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu, seperti kerukunan, kebersamaan, dan pentingnya menjaga tradisi,” ungkap Nur Sholiqin.
Ia berharap sejarah serta kearifan lokal yang dimiliki Desa Turi dapat terus dikenalkan dan diwariskan kepada generasi muda.
“Harapannya, sejarah dan kearifan lokal yang dimiliki Desa Turi dapat terus dikenal serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.
Penelusuran yang dilakukan mahasiswa KKN 42 Unugiri tersebut menjadi bagian dari upaya mengenalkan kembali kekayaan sejarah lokal kepada generasi muda sekaligus mendorong masyarakat untuk terus menjaga tradisi dan warisan budaya yang menjadi identitas Desa Turi.
Sumber:Klompokkkn.unugiri42.turi,tambakrejo












