BOJONEGORO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pintar Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro Kelompok 42 mengawali pengabdian di Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, dengan melakukan silaturahmi ke sejumlah tokoh masyarakat dan pemangku kepentingan desa.
Kegiatan yang dilaksanakan pada pekan pertama KKN tersebut menjadi langkah awal mahasiswa untuk mengenal kondisi sosial, budaya, keagamaan, serta potensi desa secara langsung. Selain memperkenalkan diri, mahasiswa juga menyerap berbagai aspirasi dan pengalaman dari masyarakat sebagai bekal dalam menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan desa.
Rombongan mahasiswa mengunjungi Kepala Desa Turi beserta perangkat desa, kepala dusun, Kepala Urusan (Kaur) Pembangunan, Jogoboyo, Bayan, Ketua Muslimat, para kiai, hingga pengelola lembaga pendidikan keagamaan.
Kepala Desa Turi menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN dan berharap mereka mampu memanfaatkan masa pengabdian untuk belajar langsung dari kehidupan masyarakat.
“Selamat datang di Desa Turi. Gunakan kesempatan ini untuk berbaur dengan masyarakat. Pengalaman di lapangan sering kali tidak diperoleh di bangku kuliah. Belajarlah, berbagi, dan jaga hubungan baik dengan seluruh warga,” pesannya.
Kaur Pembangunan Desa Turi, Aris Fuad, juga mengingatkan bahwa keberhasilan KKN tidak hanya dinilai dari terlaksananya program kerja, tetapi juga dari pengalaman hidup yang diperoleh mahasiswa selama tinggal di desa.
Menurutnya, interaksi sosial dengan masyarakat akan memberikan pelajaran berharga di bidang sosial, pendidikan, keagamaan, maupun kehidupan sehari-hari.
“Jangan terlalu fokus pada program kerja saja. Pengalaman hidup bersama masyarakat justru menjadi nilai paling berharga. Tetaplah menjadi diri sendiri selama KKN, ojo jaim,” ujarnya yang disambut tawa mahasiswa.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh banyak informasi mengenai kondisi Desa Turi. Kepala Dusun Bacem, Parman, menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat menggantungkan perekonomian dari sektor pertanian, khususnya tanaman jagung.
Ia menyebut harga jagung kering saat panen berkisar Rp6.000 per kilogram, sedangkan jagung basah sekitar Rp4.800 per kilogram. Namun limbah bonggol jagung masih banyak dibakar karena belum dimanfaatkan secara optimal.
Parman juga mengungkapkan perubahan yang dialami desa dalam beberapa tahun terakhir, termasuk masuknya jaringan listrik secara penuh sekitar enam tahun lalu.
Selain itu, ia menyoroti persoalan infrastruktur yang hingga kini belum terselesaikan.
“Jalan di sini sudah lama rusak. Selama hampir 30 tahun saya menjadi perangkat desa, setiap kepala desa selalu mengajukan perbaikan. Sudah difoto, sudah diukur, tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut yang jelas,” katanya.
Ia juga menyampaikan sejumlah persoalan lain yang dihadapi masyarakat, seperti belum adanya pasar desa serta gangguan hama tikus yang sering menyerang tanaman jagung.
Sementara itu, Ketua Muslimat Desa Turi, Wari Eka Sari, berbagi pengalaman selama memimpin organisasi perempuan tersebut selama tiga periode. Ia mengajak mahasiswa menanamkan semangat pengabdian dengan penuh kesabaran.
Menurutnya, masyarakat Desa Turi memiliki kehidupan keagamaan yang cukup aktif melalui berbagai kegiatan rutin, seperti istigasah Ahad Pahing, khatmil Al-Qur’an triwulanan, Rotibul Haddad setiap selapanan, hingga tahlilan ibu-ibu setiap malam Jumat.
Mahasiswa KKN juga bersilaturahmi ke kediaman KH Rokhim, pengasuh TPQ yang telah berdiri sejak tahun 2002. Ia menceritakan perjalanan panjang mengelola pendidikan Al-Qur’an di desa, termasuk tantangan dalam mencari tenaga pengajar yang berkelanjutan.
Melalui rangkaian silaturahmi tersebut, mahasiswa KKN Pintar Unugiri Kelompok 42 memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi Desa Turi, mulai dari potensi pertanian, kehidupan sosial-keagamaan, hingga berbagai persoalan pembangunan yang masih menjadi perhatian masyarakat.
Kegiatan ini menjadi pondasi penting dalam membangun hubungan yang harmonis antara mahasiswa dan masyarakat, sekaligus memastikan program pengabdian yang akan dijalankan benar-benar berangkat dari kebutuhan serta aspirasi warga.
Warta: Fuad
Editor: (Red/Lintang Nusantara)












