BOJONEGORO, LINTANGNUSANTARA – Sebanyak 4.251 pasien HIV/AIDS tercatat menjalani pengobatan di Kabupaten Bojonegoro. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.930 orang merupakan warga Kabupaten Bojonegoro, sedangkan 2.321 pasien lainnya berasal dari luar daerah.
Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro, Ninik Susmiati, menyusul pernyataan Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah terkait hasil inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah lokasi yang diduga digunakan untuk aktivitas asusila.
Menurut Ninik, jumlah pasien yang menjalani pengobatan di fasilitas kesehatan di Bojonegoro tidak seluruhnya merupakan penduduk setempat. Sebagian pasien berasal dari kabupaten/kota lain yang mendapatkan layanan pengobatan di Bojonegoro.
“Dari 4.251 pasien yang melakukan pengobatan, sebanyak 1.930 orang merupakan penduduk Bojonegoro. Sisanya berasal dari luar Bojonegoro,” terang Ninik.
Data tersebut menjadi perhatian karena penanganan HIV/AIDS tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga membutuhkan upaya pencegahan melalui edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Sebelumnya, Wakil Bupati Bojonegoro Nurul Azizah melakukan sidak ke sejumlah lokasi yang diduga menjadi tempat berlangsungnya perbuatan asusila. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menjaga ketertiban sosial serta mencegah berbagai persoalan yang dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Pemkab Bojonegoro melalui Dinkes terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terhadap pencegahan HIV/AIDS, termasuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara sukarela serta mendapatkan layanan pengobatan apabila terindikasi terinfeksi.
Pemerintah juga mengingatkan agar persoalan HIV/AIDS tidak disikapi dengan stigma dan diskriminasi. Pasien perlu mendapatkan dukungan serta akses layanan kesehatan yang memadai agar dapat menjalani pengobatan secara berkelanjutan.
Dengan data tersebut, Pemkab Bojonegoro diharapkan dapat semakin memperkuat langkah pencegahan, edukasi, pemeriksaan, dan penanganan HIV/AIDS, sekaligus meningkatkan pengawasan terhadap potensi faktor risiko di masyarakat.
***












