Hari Batik Nasional, Slamet Ariyadi: Jangan Bangga Motifnya Saja, Perajin Juga Harus Sejahtera

  • Bagikan
Screenshot 2026 10 02 10 43 48 32 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

JAKARTA//LintangNusantara– Hari Batik Nasional 2 Oktober 2026 menjadi momentum untuk tidak sekadar mengenakan batik, tetapi juga memperkuat keberlangsungan tradisi dan kehidupan para perajin. Ketua Umum Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) Slamet Ariyadi mengajak masyarakat mengenal, menggunakan, sekaligus ikut menjaga batik lokal agar tetap hidup lintas generasi.

Slamet menegaskan, batik bukan hanya kain bermotif indah. Di balik setiap lembar batik terdapat sejarah, filosofi, keterampilan, serta tradisi yang diwariskan turun-temurun. “Batik memiliki cerita yang bisa kita hadirkan melalui banyak cara. Masyarakat tidak hanya menikmati keindahannya, tetapi juga mengenal proses dan filosofi di baliknya,” kata Slamet di Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, pengakuan UNESCO terhadap batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2009 bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggung jawab bersama. Pelestarian harus diwujudkan melalui pewarisan pengetahuan dan keterampilan membatik agar tradisi tersebut tidak berhenti sebagai simbol budaya semata.

Slamet juga menyoroti pentingnya keberpihakan masyarakat terhadap produk perajin lokal. Menurut dia, membeli dan menggunakan batik produksi daerah turut menjaga roda ekonomi keluarga pembatik. “Di balik selembar batik ada keterampilan, ketelatenan, dan penghidupan keluarga. Kebetulan batik yang kami pakai ini batik lokal asli Madura,” ujarnya.

Ia menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga masa depan batik, termasuk dengan mengenal motif khas daerah, mengembangkan desain tanpa menghilangkan identitas budaya, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar. Batik lokal, kata dia, harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisinya.

“Selamat Hari Batik Nasional. Mari kita kenakan batik dengan bangga, kenali prosesnya, dan dukung para perajin agar tradisi ini tetap hidup sekaligus mampu menjadi sumber penghidupan bagi generasi berikutnya,” pungkas Slamet.

(Red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *