Kerrap Tanggha’ Sumenep Bukan Sekadar Pesta Budaya, Slamet Ariyadi Dorong Tradisi Madura Naik Kelas

  • Bagikan
IMG 20260927 WA0060

SUMENEP//LintangNusantara– Festival Budaya Kerrap Tanggha’ di Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Sabtu (26/9/2026), menjadi panggung pelestarian warisan leluhur masyarakat Madura. Anggota DPR RI, Slamet Ariyadi, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mendorong agar tradisi lokal tidak sekadar dipertahankan, tetapi juga dikembangkan menjadi kekuatan budaya yang mampu menembus ruang lebih luas.

IMG 20260927 WA0053

Kehadiran Slamet Ariyadi dalam festival tersebut menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus modernisasi. Menurutnya, Kerrap Tanggha’ bukan hanya tontonan atau hiburan rakyat, melainkan bagian dari kearifan lokal yang menyimpan nilai sejarah dan kebanggaan masyarakat Madura.

“Budaya dan tradisi adalah bagian dari identitas masyarakat. Karena itu, kita harus terus merawat dan mengenalkannya kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman,” ujar Slamet Ariyadi. Ia menilai, keberlangsungan tradisi membutuhkan keterlibatan nyata masyarakat, khususnya generasi muda, agar warisan leluhur tidak berhenti sebatas seremoni tahunan.

IMG 20260927 WA0057

Lebih jauh, Slamet mendorong sinergi pemerintah, komunitas budaya, dan masyarakat untuk mengembangkan festival secara berkelanjutan. Pelestarian budaya, menurutnya, perlu diiringi langkah konkret agar tradisi lokal memiliki ruang tumbuh sekaligus mampu memberikan manfaat bagi sektor pariwisata dan perekonomian warga.

“Kalau budaya kita rawat dan dikembangkan dengan baik, ini bisa menjadi kekuatan untuk memperkenalkan Madura lebih luas sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” katanya. Dorongan tersebut menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya daerah memiliki potensi yang dapat dikembangkan tanpa meninggalkan nilai-nilai asli yang diwariskan para pendahulu.

Festival Kerrap Tanggha’ berlangsung meriah dengan antusiasme masyarakat yang menyaksikan rangkaian kegiatan. Slamet berharap festival serupa terus digelar di berbagai wilayah Madura dengan melibatkan generasi muda secara aktif. Tantangannya kini bukan hanya menjaga tradisi tetap hidup, melainkan memastikan budaya lokal mendapat ruang, perhatian, dan keberlanjutan agar benar-benar mampu naik kelas tanpa kehilangan jati diri.

(Pakto)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *